Minggu, 06 Juni 2021

Manajemen Risiko

 

Analisis kejadian/musibah menggunakan manajemen risiko

Pada awal tahun 2020, sebuah sekolah di Jogjakarta melakukan kegiatan pramuka yang berakhir tragis. Tercatat lima korban meninggal karena tenggelam saat mengikuti kegiatan susur sungai. 



  1. Bagaimanakah pendapat Anda tentang kasus tersebut jika dikaitkan dengan manajemen risiko? 

Jawab :

Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan; penetapan konteks, identifikasi,analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi risiko. Risiko dalam sebuah program merupakan sebuah langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi segala sesuatu yang kemungkinan besar dapat terjadi, termasuk juga dalam merencanakan dan melaksanakan program atau kegiatan. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan wajib melakukan rangkaian analisis dan metodologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dari pelaksanaan program/kegiatan sekolah.

menurut pendapat saya tentang kasus  sebuah sekolah di Jogjakarta yang melakukan kegiatan pramuka yang berakhir tragis, tercatat lima korban meninggal karena tenggelam saat mengikuti kegiatan susur sungai jika dikaitkan dengan manajemen risiko, panitia atau penyelenggara belum menerapkan manajemen risiko, panitia seharusnya melakukan identifikasi/observasi tempat, lalu menganalisis tempat tersebut, kira-kira membahayakan tidak tempat nya, aman tidak, dari segi alat safety/keselamatan juga harus disiapkan seperti pelampung, tali atau perahu karet sehingga kegiatan dapat diantisipasi segala sesuatu yang kemungkinan terjadi. Sehingga kegiatan susur sungai tidak memakan korban jiwa.

  1. Dengan pengetahuan yang Anda dapat dari tahapan Eksplorasi Konsep – Mandiri, bagaimana Anda akan mengatur ulang pelaksanaan program di sekolah dalam kasus di atas? Jelaskan tahap demi tahap yang akan Anda lakukan. 

Jawab :

Adapun tahapan manajemen risiko adalah sebagai berikut:

a.    Identifikasi jenis risiko

 Identifikasi Risiko adalah usaha untuk menemukan atau mengetahui risiko – risiko yang mungkin timbul dalam kegiatan yang dilakukan oleh lembaga/perusahaan atau perorangan. Setiap kegiatan sejak awal harus diidentifikasi,analisa, dan dievaluasi, jika perlu mengadakan simulasi, sehingga risiko dapat dihindari.

b.    Pengukuran risiko 

Pengukuran risiko adalah usaha untuk mengetahui besar atau kecilnya risiko yang akan terjadi. Hal ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya risiko yang dihadapi, kemudian bisa melihat dampak dari risiko terhadap kinerja sekaligus bisa melakukan prioritisasi risiko, risiko yang mana yang paling relevan. Pengukuran risiko dilakukan setelah pengidentifikasian risiko. Hal ini dilakukan untuk menentukan relatif pentingnya risiko, untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk menanganinya. Dalam kasus diatas risiko tinggi mungkin akan menimbulkan korban jiwa, risiko rendah tidak menimbulkan korban jiwa.

c.    Melakukan strategi dalam pengendalian risiko

Pengendalian risiko di sini meliputi upaya untuk menyeleksi pilihan-pilihan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko negatif, atau memindahkan risiko yang akan muncul. Proses strategi pengendalian risikonya dilakukan dengan menerapkan dan melaksanakan program-program yang dilaksanakan. Dari program-program tersebut dapat dimaksudkan agar dapat menghindari risiko (risk advoidnace), mengurangi risiko (risk management), memindahkan risiko (risk transfer), penahanan risiko (risk retention).

d.    Melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan

Tujuan evaluasi risiko adalah memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Jika kita memahami risiko dengan lebih baik, maka risiko akan lebih mudah dikendalikan. Evaluasi diperlukan sebagai kontrol kegiatan, apa yang harus dibenahi/diperbaiki, masukan-masukan dari berbagai pihak dapat digunakan untuk menghindari atau mengurangi risiko. Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan agar masalah-masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik.

 

Kamis, 15 April 2021

Tugas Modul 3.1 Koneksi Antar Materi (Pengambilan Keputusan)

 

Tugas Modul 3.1 Koneksi Antar Materi

Oleh :

Syukron Fuad, S.Pd.,Gr.

CGP Tanggamus Angkatan 1


Pengambilan Keputusan Dengan Filosofi Pratap Triloka KHD, Nilai dan peran guru penggerak, teknik coaching, paradigma dilema etika, prinsip pengambilan keputusan

 

  • Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”.  Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Patrap Triloka adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Suwardi Suryaningrat (alias Ki Hadjar Dewantara) selaku pendiri organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Taman Siswa. Terdapat tiga unsur penting dan terkenal dalam Patrap Triloka atau dikenal dengan trilogi pendidikan taman siswa yaitu :

            1.  Ing ngarso sung tulodo

                Ing ngarso artinya didepan memberi contoh atau teladan yang baik

           2.  Ing madya mangun karso

               Ing madya mangun karso memiliki makna seorang pendidik harus dapat                                   menciptakan prakarsa atau ide atau gagasan.

          3.  Tut wuri handayani

Tut wuri handayani yang berarti  seorang pendidik harus bisa memberi arahan atau dapat juga diartikan dibelakang memberikan dukungan. Nah tutwuri handayani ini menjadi slogan pendidikan yang sudah tidak asing kita dengar, ajaran yang ke tiga ini kita sebagai guru hendaknya selalu memotivasi, mendampingi siswa kita agar kedepannya siswa kita mampu mandiri.

Prinsip pemikiran Ki Hadjar Dewantara sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Jika kita menerapkan pemikiran KHD, maka kita akan mudah dalam mengambil keputusan dalam memimpin pembelajaran. Dalam pengambilan keputusan ada beberapa hal yang hendaknya guru lakukan, yang pertama guru hendaknya terus menuntun atau membimbing muridnya (sesuai kodrat alam) agar murid dapat belajar secara mandiri dan dapat belajar dalam kondisi yang nyaman, tidak tertekan dalam belajar, kemudian yang kedua dalam membuat materi hendaknya pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik (kodrat alam) dan disesuaikan dengan perkembangan abad 21 (kodrat zaman).

 


  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai dan Peran Guru Penggerak :

1.    Mandiri

2.    Reflektif

3.    Kolaboratif

4.    Inovatif

5.    Berpihak pada Murid

 

Nilai-nilai diatas harus dimiliki oleh seorang guru, karena guru mempunyai peran besar dalam mewujudkan merdeka belajar pada anak, dan menajadikan siswa memiliki profil pelajar pancasila, yaitu : beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan tunggal, bernalar kritis, dan mandiri. memiliki tekad belajar sepanjang hayat, serta memiliki kompetensi global untuk terus belajar dan berkolaborasi tanpa memandang perbedaan yang ada. Menumbuhkan sikap menerima dan menghargai keberagaman sangatlah penting untuk diperhatikan. Sekolah terdapat siswa yang berbagai macam suku, agama dan budaya. Jangan sampai terjadi gesekan yang dapat merusak kedamaian.  Sebagai pendidik kita berkewajiban mendidik anak dengan memberikan motivasi intrinsik pada siswa. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang, tidak perlu adanya rangsangan dari luar

Sebagai guru saya harus memotivasi siswa  agar siswa tergerak hatinya dalam mewujudkan merdeka belajar, denga motivasi intrinsik diharapkan siswa :

1.  Belajar tanpa adanya unsur paksaan, belajar dalam keadaan senang

2.  Jika ada masalah, dapat menyelesaikan masalah (menemukan solusi)

3.  Responsif (tanggap), jika ada sampah, tanpa disuruh siswa memungut

     sampah dan membuang pada tempat sampah

4.  Peduli

5.  Menghargai perbedaan/keragaman



  • Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. Murid kita memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. Coaching memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. JIka proses coaching berhasil dengan baik, kita sebagai guru dapat mengambil keputusan yang tepat agar masalah-masalah pembelajaran atau masalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran murid akan dapat diatasi .

 

·               Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika               kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Dalam pengambilan keputusan yang mengandung dilema etika yang harus dilakukan seorang pendidik yaitu dengan memperhatikan 4 paradigma antara lain :

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

Selain itu, dalam pengambilan keputusan dengan memperhatikan 3 Prinsip pengambilan keputusan, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihanpilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi . Ketiga prinsip tersebut adalah:

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Seorang pendidik dapat menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengambilan keputusan. Berikut adalah 9 langkah yang telah disusun untuk memandu kita dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

         1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

         2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

         3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

         4. Pengujian benar atau salah

         5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

         6. Melakukan Prinsip Resolusi

         7. Investigasi Opsi Trilema

         8. Buat Keputusan

       9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

 

  • Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan yang dihadapi adalah akan adanya hambatan atau tantangan ketika keputusan yang kita ambil tidak sesuai apa yang diharapkan orang lain.

  • Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang baik akan berdampak pada hasil yang baik, sehingga mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik; aktif dan proaktif dalam belajar. Seorang pendidik juga hendaknya dapat mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan merdeka belajar.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan keputusan yang baik dalam pembelajaran dapat mewujudkan merdeka belajar dan terbentuk profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila yang dimaksud adalah peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis, dan mandiri. Dengan berbekal profil pancasila ini, seorang murid dapat menentukan masa depannya.

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”. Dengan teknik coaching kita dapat menggali potensi siswa, pengambilan keputusan yang tepat dapat dilakukan dengan memperhatikan 4 paradigma yaitu : 1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term), dan memperhatikan 3 Prinsip pengambilan keputusan: 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) 2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) 3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking), Serta 9 langkah pengambilan dan pengambilan keputusan :

         1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi
             ini.

         2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

         3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

         4. Pengujian benar atau salah

         5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

         6. Melakukan Prinsip Resolusi

         7. Investigasi Opsi Trilema

         8. Buat Keputusan

         9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Dengan tahapan-tahapan diatas maka akan terbentuk profil pelajar pancasila dan terwujudnya merdeka belajar.

 


Rabu, 31 Maret 2021

Puisi Guru Penggerak

 

Guru Penggerak

Karya : Syukron Fuad

Guru penggerak

Pelita dalam setiap langkah anak bangsa

Tempat menumpah tanya, tempat menimba dan tempat meniru laku

 

Kehadirannya selalu dinanti

Karyanya selalu ditunggu

Dalam pergerakan ilmu pengetahuan yang kian maju

 

Guru penggerak

Dengan segala rasa emosional dan sikap sosial

Selalu menuntun generasi bangsa ini agar mampu bersaing dalam era kemajuan teknologi

Dan menjadi bangsa yang berkarakter,

Bangsa yang mandiri, kolaboratif dan inovatif

 

Terus bergerak agar bangsa ini tak lalai dengan kepongahan ilmu pengetahuan yang masih mengayun di udara

Terus bergerak agar ilmu pengetahuan terus digapai setinggi langit dengan karakter yang tetap membumi

 

Guru penggerak

Dalam jengahnya harus mampu menciptakan kenyamanan dalam merdeka belajar

Agar bangsa ini terus berlari dalam menggapai ilmu

 

Guru penggerak selalu menjadi bagian dan harapan setiap bangsa

Dahulu, kini dan masa yang akan datang




Pemikiran KHD, Asas Trikon dan Inkuiri Apresiatif

 

Menurut Ki Hadjar Dewantara “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Sebagai pendidik harus menyadari bahwa setiap anak lahir dengan memiliki kodratnya masing-masing dari yang maha kuasa, jadi seorang pendidik harus memahami bahwa setiap anak berbeda, tidak sama, dan tidak boleh memaksa anak memiliki daya nalar yang sama. sebagai pendidik kita harus menjadi guru among yaitu mendidik dengan penuh rasa kasih sayang atau dengan pola menghamba pada anak/berpihak pada anak. Selain itu kita juga dalam mendidik disesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebudayaan sesuai Asas Trikon:  

1. Konvergen (Tidak menutup diri dengan perkembangan kebudayaan dunia), 

2. Konsentris (Berpegang teguh kepada budaya sendiri memperkuat kepribadian nasional),

3. Kontinyu (Mengolah budaya bangsa secara berkesinambungan dari masa lalu, masa kini dan masa datang). 

Sebagai pendidik kita harus mampu membentuk karakter siswa dengan mengetahui potensi/kekuatan yang ada pada diri anak, misal anak yang tidak bisa diam kita arahkan menjadi siswa yang pandai pidato, siswa yang hiperaktif bisa kita arahkan untuk memimpin praktikum, sistem ini disebut dengan inkuiri apresiatif. 

Inkuiri Apresiatif (IA) adalah Sebuah paradigma sekaligus model manajemen perubahan yang memegang prinsip psikologi positif dan pendidikan positif dan pendekatan berbasis kekuatan. Dengan demikian perubahan akan terjadi pada khususnya pada diri anak sehingga terwujud merdeka belajar yaitu pendidikan yang memerdekakan pikiran (cipta), perasaan (rasa) dan kemauan (karsa) anak.




Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata (Nilai dan Peran Guru penggerak)

  

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

Judul Modul    : 1.2. Nilai dan Peran Guru penggerak

Latar belakang

 

Seorang guru mempunyai peran besar dalam mewujudkan merdeka belajar pada anak, dan menajdikan siswa memiliki profil pelajar pancasila, yaitu : beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan tunggal, bernalar kritis, dan mandiri. memiliki tekad belajar sepanjang hayat, serta memiliki kompetensi global untuk terus belajar dan berkolaborasi tanpa memandang perbedaan yang ada. Menumbuhkan sikap menerima dan menghargai keberagaman sangatlah penting untuk diperhatikan.Sekolah memiliki siswa yang berbagai macam suku, agama dan budaya. Jangan sampai terjadi gesekan yang dapat merusak kedamaian.  Sebagai pendidik kita berkewajiban mendidik anak dengan memberikan motivasi intrinsik agar toleransi terwujud.

Tujuan

  1. •          Menumbuhkan motivasi instrinsik anak
  2.      Menerima keberagaman

Tolok Ukur

Motivasi instrinsik tumbuh dalam diri anak untuk menerima keberagaman, serta terwujudnya sikap toleransi menghargai sesama

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

 

1.    Membuat RPP merdeka belajar

2.    Guru membuat kelompok kecil

3.    Guru menjelaskan materi, dan mendemonstrasikan percobaan, murid memperhatikan guru

4.    Murid bekerjasama dalam melakukan percobaan

5.    permainan untuk memunculkan motivasi intrinsik dalam menerima keberagaman

6.    Guru merefleksi pembelajaran

Dukungan yang dibutuhkan

Bahan dan alat yang dibutuhkan

•          Android

•          Buku tulis, pena

Pihak yang di butuhkan

•          Kepala sekolah

•          Teman sejawat

•          Wali murid (untuk kesediaan tempat belajar)

 


Motivasi Intrinsik

  

Motivasi intrinsik


Motivasi intrnsik merupakan motivasi yang timbul dari diri seseorang, tidak perlu adanya rangsangan dari luar. Dari dalam diri seseorang sudah ada dorongan yang menimbulkan mereka untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh mereka yang senang mendengarkan lagu, membaca dan menggambar, tanpa disuruh pun mereka akan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka akan mencari lagu atau buku yang akan dibaca tanpa harus disuruh orang atau mendapatkan dorongan dari orang lain. Motivasi intrinsik timbul karena keinginan diri sendiri, karena hobi atau karena kesadaran diri sendiri.

Motivasi intrinsik juga didorong dari tujuan kegiatan yang dilakukan. Sebagai contoh adalah kegiatan belajar. Belajar tentu memiliki tujuan yaitu ingin pandai dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Seorang siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh karena mereka ingin mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Motivasi intrinsik bisa dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di mulai dari dorongan dari dalam diri untuk mendapatkan sesuai yang penting dari kegiatan belajar tersebut.

 

Motivasi intrnsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang, tidak perlu adanya rangsangan dari luar

Sebagai guru saya harus memotivasi siswa  agar siswa tergerak hatinya dalam mewujiudkan merdeka belajar, denga motivasi intrinsik diharapkan siswa :

1.        Belajar tanpa adanya unsur paksaan, belajar dalam keadaan senang

2.        Jika ada masalah, dapat menyelesaikan masalah (menjadi solusi)

3.        Responsif (tanggap), jika ada sampah, tanpa disuruh siswa memungut sampah dan membuang pada tempat sampah

4.        Peduli

5.        Menghargai perbedaan/keragaman






Pemikiran KHD

  

 

Ki Hadjar Dewantara (KHD) memiliki ajaran atau petuah  ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani yang menjadi jiwa dari pendidikan  nasional. ing ngarso artinya didepan memberi contoh atau teladan yang baik, ing madya mangun karso memiliki makna seorang pendidik harus dapat menciptakan prakarsa atau ide atau gagasan, dan tut wuri handayani yang berarti  seorang pendidik harus bisa memberi arahan atau dapat juga diartikan dibelakang memberikan dukungan. Nah tutwuri handayani ini menjadi slogan pendidikan yang sudah tidak asing kita dengar, ajaran yang ke tiga ini kita sebagai guru hendaknya selalu memotivasi, mendampingi siswa kita agar kedepannya siswa kita mampu mandiri

 

Prinsip pemikiran Ki Hadjar Dewantara sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.  Di sekolah saya ada beberapa pendidikn karakter sesuai dengan pemikiran KHD seperti Ekstra kurikuler pramuka, UKS, Ekskul Sains, Program Tahfidz Qur'an, Gerakan Asam Seraju (Ambil Sampah Senin Rabu Jumat)

Sebagai guru sesuai pemikiran Ki hadjar Dewantara, saya sudah melakukan nya, seperti membimbing kegiatan seperti Pembina Sains center, menurut Ki Hadjar kita sebagai guru adalah menuntun atau membimbing, saya bimbing siswa, saya bina dan pada pelaksanaan lomba diharapkan siswa dapat mengerjakan soal secara mandiri. saya juga sebagai guru prakarya, saya sering membimbing siswa membuat sebuah karya, misalkan lukisan dari pelepah pisang, atau membuat ketupat, harapannya jika siswa bisa membuat secara mandiri, mereka dapat menjualnya sehingga dapat menghasilkan pemasukan uang. dalam hal karakter saya memberi contoh misalnya selalu mengucapkan salam, menggunakan kata yang baik, memasukkan baju, berusaha sealu masuk kelas dan tidak meninggalkan kelas

Ada beberapa harapan saya, yang pertama saya ingin terus menuntun atau membimbing murid saya agara dapat mandiri dan siswa saya dapat belajar dalam kondisi yang nyaman, siswa tidak tertekan dalam belajar, kemudian saya berharap kurikulum juga disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan disesuaikan dengan perkembangan abad 21,  sesuai dengan RPP merdeka belajar saya akan membuat pembelajaran sederhana tapi sarat makna, saya berharap guru-guru yang lain juga terlibat dalam proses pembentukan karakter siswa, bersama kita menjadi pemimpin pembelajaran, saling tukar informasi sesama guru, dan saya berharap siswa saya berani menjadi pemimpin dalam bidang apapun. Artinya saya ingin memberdayakan siswa dalam event atau kegiatan sekolah

Saya berharap murid-murid saya mampu berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) atau dapat disebut juga mandiri, memiliki akhlak yang baik atau karakter yang baik, sopan, santun, memiliki kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik, saya berharap murid-murid saya mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri maupun pemimpin bagi orang lain, saya ingin murid saya ketika ada sampah di lingkungan sekolah tanpa disuruh langsung memungut sampah, saya berharap siswa saya jika ada guru yang perlu dibantu, tanpa guru itu meminta bantuan murid-murid saya menawarkan bantuan. Saya berharap murid-murid saya berani bertanya jika tidak tahu, berani mengaku salah jika salah dan masih banyak harapan saya pada murid-murid saya

 

Banyak hal yang saya dapat dari mempelajari modul ini, antara lain tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang tujuan  pendidikan  yaitu:  menuntun segala  kodrat  yang  ada  pada  anak-anak,  agar  mereka  dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab  itu,  pendidik  itu  hanya  dapat menuntun tumbuh  atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya  (bukan  dasarnya)  hidup  dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dan saya berharap semoga saya bisa menuntun atau membimbing murid-murid saya agar mandiri, dapat menjadi pemimpin, menjadi pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia atau memiliki budi pekerti yang baik

lalu ada tentang budi pekerti,  atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran,

perasaan  dan  kehendak  atau  kemauan  sehingga  menimbulkan

tenaga.  Budi  pekerti  juga  dapat  diartikan  sebagai  perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya

(psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.




Filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara :



https://youtu.be/4U9qbWZAS4A